Tragedi Pejompongan Saat Rakyat Kecil Dilindas Demokrasi
Oleh: Abdul Aziz Presiden Mahasiswa UNIRA Malang
Nama Affan Kurniawan sebelumnya hanyalah satu dari sekian banyak rakyat kecil yang mencari nafkah di jalanan Jakarta. Ia driver ojek online, berangkat pagi pulang malam, hidup dari keringat dan roda motornya. Tetapi nasibnya berakhir tragis tubuhnya dilindas kendaraan rantis Brimob di tengah kericuhan demonstrasi di Pejompongan, Jakarta Pusat.
Kematian Affan bukan kebetulan, bukan juga sekadar “musibah.” Ia adalah luka besar demokrasi sebuah peringatan pahit bahwa di negeri ini, suara rakyat bisa dibungkam bahkan dengan ban rantis.
Negara yang Terlalu Cepat Menghunus Tongkat
Sejarah kita terlalu sering diwarnai darah rakyat. Dari 1998, tragedi Semanggi, Tragedi Kanjuruhan“Reformasi Dikorupsi” 2019, sampai Wadas dan Rempang polanya selalu sama rakyat bersuara, aparat maju dengan gas air mata.
Pejompongan mengulang kisah itu. Bedanya, Affan bukan demonstran. Ia hanya orang kecil yang kebetulan berada di jalan yang salah, pada waktu yang salah. Ini menegaskan satu hal di negeri yang demokratis pun, rakyat bisa mati sia-sia hanya karena negara terlalu cepat menghunus tongkatnya.
DPR dan Api Kemarahan Rakyat
Mari jujur. Demo itu tidak datang dari ruang kosong. Ia lahir dari kebijakan politik yang penuh kesewenang-wenangan.
Tunjangan rumah Rp50 juta per bulan untuk anggota DPR, di saat rakyat kesulitan bayar kontrakan.
Kenaikan pajak daerah yang mencekik warga kecil dari desa sampai kota.
Rakyat turun ke jalan bukan karena hobi demo, tapi karena kebijakan DPR makin menjauh dari nurani publik. Ironisnya, yang lebih cepat datang justru pasukan bersenjata, bukan solusi dari parlemen.
Solidaritas yang Tak Bisa Dibubarkan
Duka Affan disambut dengan solidaritas. Para driver ojol mengawal jenazahnya, mendatangi Mako Brimob, bahkan berani menghadang gas air mata.
Dari sana kita belajar solidaritas rakyat jauh lebih hidup daripada negara. Di saat aparat melindas, rakyat justru menghidupkan kembali martabat kawannya yang gugur.
Permintaan Maaf yang Terlalu Murah
Kapolri memang sudah meminta maaf. Divpropam katanya sedang memeriksa tujuh anggota Brimob. Tapi rakyat tahu betul ujung dari drama ini: sanksi etik, hukuman ringan, lalu kasus dilupakan.
Nyawa rakyat jangan ditukar dengan kata “maaf.” Demokrasi jangan ditebus dengan basa-basi. Kalau negara hanya berhenti di sana, berarti pesan yang dikirim jelas hidup manusia murah di mata kekuasaan.
Persimpangan Demokrasi
Demokrasi bukan sekadar kotak suara lima tahunan. Demokrasi adalah ruang aman bagi rakyat untuk bicara tanpa takut ditembak atau dilindas.
Hari ini kita sampai di persimpangan jalan
Apakah demokrasi akan kita rawat dengan keberanian moral, atau kita biarkan mati perlahan, tercekik oleh tunjangan DPR, pajak mencekik, dan roda rantis Brimob?
Seruan Moral
Affan tidak menuntut apa-apa. Ia hanya sedang bekerja. Justru itu yang membuat kematiannya menampar kalau orang yang hanya bekerja pun bisa mati karena negara, siapa yang bisa merasa aman?
Tragedi Pejompongan bukan hanya cerita ojol, bukan hanya urusan mahasiswa, tapi luka seluruh bangsa.
Sejarah akan mencatat. Pertanyaannya sederhana,
Apakah kita akan dikenang sebagai bangsa yang melindungi rakyatnya, atau sebagai bangsa yang tega melindas rakyatnya demi kenyamanan kursi kekuasaan?